Jumat, 05 Maret 2010

apakah perlu melo?

Setiap manusia memiliki sisi nuraninya sendiri. dan setiap nurani selalu saja bergerak seperti air mengikuti wadahnya. Begitupun nurani setiap manusia, setap kali bergerak ada yang merasakan dan ada pula yang acuh terhadap suara dan gerakan nurani itu. Mereka yang merasakan gerakannya, juga memiliki klasifikasinya sendiri. Diantaranya, ada yang mendengar dan memahami kemudian membahasakan apa yang ia dengar itu. Namun, sebagian yang lain, justru kapasitas untuk membahasakan nurani itu sangatlah sulit. Mereka merasakan, mendengar, memahami, namun sangat bingung untuk membahasakan dengan bahasanya apa maksut dari gerakan dan suara nurani itu. Inilah kebanyakan diantara kita. Setiap getaran nurani hanya lewat dan tanpa ada catatan yang mampu merekam semua jejak dalam bagian lain dari dirinya yang berwujud. Sesuatu yang tak berwujud itu misalnya keadaan dimana kita merasakan kasihan, sedih, bahagia, dan rasa2 lainnya yang sering sekali singgah dalam nurani.
jika saja semua tercatat, mungkin akan lebih banyak motivasi dan evaluasi yang kita ambil dari dalam diri, ketimbang membaca perasaan orang lain yang pandai membahasakan nuraninya, sehingga orang lain memperoleh makna dari gerakan dan suara nurani.
Tapi, tak setiap ppembahasaan nurani selalu berisi sesuatu yang melo, dalam kalimat puitis dan seperti pujangga. Ungkapan keseharian rupanya lebih memiliki kedalaman makna jika diramu dengan ketulusan. Namun kemeloan yang berlebih, tulisan akan tampak sepeti kemanjaan dan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar