Entah kenapa, sepertinya aku ingin segera memulai hal baru. Yang membuat aku terbang lagi. Hidup ini apa hanya gtugtu aja ya... apa karena aku g sholat jd ngerasa sempit.. apa ini rasanya di sempitkan... Ya Allah....
apa saja yang kulakukan sepertinya itu2 saja. atau sekarang memang sedang dilanda dropness soalnya banyak info yang membuatku mengecil. padahal seharusnya ini tak perlu
Senin, 08 Maret 2010
Jumat, 05 Maret 2010
apakah perlu melo?
Setiap manusia memiliki sisi nuraninya sendiri. dan setiap nurani selalu saja bergerak seperti air mengikuti wadahnya. Begitupun nurani setiap manusia, setap kali bergerak ada yang merasakan dan ada pula yang acuh terhadap suara dan gerakan nurani itu. Mereka yang merasakan gerakannya, juga memiliki klasifikasinya sendiri. Diantaranya, ada yang mendengar dan memahami kemudian membahasakan apa yang ia dengar itu. Namun, sebagian yang lain, justru kapasitas untuk membahasakan nurani itu sangatlah sulit. Mereka merasakan, mendengar, memahami, namun sangat bingung untuk membahasakan dengan bahasanya apa maksut dari gerakan dan suara nurani itu. Inilah kebanyakan diantara kita. Setiap getaran nurani hanya lewat dan tanpa ada catatan yang mampu merekam semua jejak dalam bagian lain dari dirinya yang berwujud. Sesuatu yang tak berwujud itu misalnya keadaan dimana kita merasakan kasihan, sedih, bahagia, dan rasa2 lainnya yang sering sekali singgah dalam nurani.
jika saja semua tercatat, mungkin akan lebih banyak motivasi dan evaluasi yang kita ambil dari dalam diri, ketimbang membaca perasaan orang lain yang pandai membahasakan nuraninya, sehingga orang lain memperoleh makna dari gerakan dan suara nurani.
Tapi, tak setiap ppembahasaan nurani selalu berisi sesuatu yang melo, dalam kalimat puitis dan seperti pujangga. Ungkapan keseharian rupanya lebih memiliki kedalaman makna jika diramu dengan ketulusan. Namun kemeloan yang berlebih, tulisan akan tampak sepeti kemanjaan dan
jika saja semua tercatat, mungkin akan lebih banyak motivasi dan evaluasi yang kita ambil dari dalam diri, ketimbang membaca perasaan orang lain yang pandai membahasakan nuraninya, sehingga orang lain memperoleh makna dari gerakan dan suara nurani.
Tapi, tak setiap ppembahasaan nurani selalu berisi sesuatu yang melo, dalam kalimat puitis dan seperti pujangga. Ungkapan keseharian rupanya lebih memiliki kedalaman makna jika diramu dengan ketulusan. Namun kemeloan yang berlebih, tulisan akan tampak sepeti kemanjaan dan
Rabu, 03 Maret 2010
berbalik arah
dari dulu politik memang selalu aneh bagi saya, betapa tidak, pembelajarannya sangat saya rasakan dulu, semasa menjadi mahasiswa. Meski kampus saya tak terlalu besar dan bukanlah sebuah universitas, tapi setidaknya di sanalah saya belajar banyak tentang politik dan kasusnya. Jangankan dalam ranah kampus yang global, baru di tataran organisasi saja sudah tampak geliat politik yang geli dan menggemaskan.
Contoh saoal, ketika di dalam sebuah organisasi muncul ketidakadilan penguasa dan ketidakberdayaan orang terhina, maka ada satu bagian yang seolah ingin tau, kenapa ini terjadi... Maka sebut saja mereka investigator, meanyai mereka2 yang tak pernah aktif setiap kali ada kegiatan organisasi. Mereka awalnya cukup merespon pertanyaan investigator, seperti mendapat angin untuk curhat, lalu keluarlah pernyataan2 yang membuat sekelumit cahanya dalam goa masalah.
Bentrok pun tak dapat terelakkan, saat dimana sebuah pertanyaan mampir ke telinga para penguasa. Mereka seperti tak dihargai, dan investigator tak ubahnya sebagai ulat yang menggerogoti daun. Lama kelamaan anggapan ini menjadi sugesti juga bagi si pelapor untuk juga mendapat perlindungan dan kemudian mendepak pelan2 sang investigator. Sangat indah. Kekuasaan telah juga memberi legalitas terhadap klen2 yang kuat untuk memojokkan sang jembatan. Jembatan bagi penguasa dan yang dikuasai, atau yangdisebut sebagai objek kekuasaan.
Pa
Contoh saoal, ketika di dalam sebuah organisasi muncul ketidakadilan penguasa dan ketidakberdayaan orang terhina, maka ada satu bagian yang seolah ingin tau, kenapa ini terjadi... Maka sebut saja mereka investigator, meanyai mereka2 yang tak pernah aktif setiap kali ada kegiatan organisasi. Mereka awalnya cukup merespon pertanyaan investigator, seperti mendapat angin untuk curhat, lalu keluarlah pernyataan2 yang membuat sekelumit cahanya dalam goa masalah.
Bentrok pun tak dapat terelakkan, saat dimana sebuah pertanyaan mampir ke telinga para penguasa. Mereka seperti tak dihargai, dan investigator tak ubahnya sebagai ulat yang menggerogoti daun. Lama kelamaan anggapan ini menjadi sugesti juga bagi si pelapor untuk juga mendapat perlindungan dan kemudian mendepak pelan2 sang investigator. Sangat indah. Kekuasaan telah juga memberi legalitas terhadap klen2 yang kuat untuk memojokkan sang jembatan. Jembatan bagi penguasa dan yang dikuasai, atau yangdisebut sebagai objek kekuasaan.
Pa
Langganan:
Postingan (Atom)