Selasa, 25 Januari 2011

Tempat beli fondant di bandung

Pagi2 sudah ngebayangin bikin kue.... sekarang kan lagi musim tuh kue cake nya pake fondant diatasnya... pemanis dan hiasan yang bisa dibentuk macem2... kebetulan pas browsing alamat yang jual kue... nemu deh alamatnya :
Dari Dago
Pas depan KFC Dago / Superindo/ Aquarius ada Taman Flexi, Sekolah Pribadi
nah masuk aja . Kalau dari Dago Atas, seb kanan. Ikuti jalan melewati
universitas Bandung Raya, ikuti terus tak lama kiri jalan pas mbelok ada
toko PD. Kijang Mas, gede tulisannya kok.

Dari Taman sari
Jalan Tamansari ( ITB ) ambil yang turun ke bawah arah Unisba, ikuti jalan
aja ( searah ) ntar ketemu juga dengan Kijang Mas.

dan satu lg info :
Tapi di kijang mas mesti beli 7 kilo, gak bisa diecer. Jatuhnya mahal
banget, apalagi cuma buat bikin 1 cake. Coba cari di sejati (pasar
baru, suniaraja), menurut seorang member Bandung udah jual kiloan. Di
nyonya Liem juga bisa, atau kalo favoritnya Uceu di pasar deket
rumahnya tapi di cimahi...hehehe

makasih ya ibu2

Nambah dan Penting : Yang ini asli dari petualangan dan nasib baik... Pas jalan di MTC Sukarno Hatta, di tko bahan Kue La Tansa (atau... apalah lupa lagi) Yang jelas tempatnya depan dekat pintu masuk utama, tokoonya dekat dengan rukonya Ceragem. Disana juga jual FOndant dengan ukuran tak terlalu besar, ada yang sekiloan dan stgah kolian.... Tinggal pilih uat yang mau nyoba kan lumayan klo beli dikit dulu...

Rabu, 12 Januari 2011

Bikang tak berkembang




Apa jadinya bila bikang adalah seperti gambar di atas? tentu saja kening anda menjadi berkerut... jangankan anda yang melihat, saya yang bikin sudah lama mengerutkan dahi sambil ketawa2. Kok bisa bikin bikang jadi lebih mirip ke surabi secara tampilan, namun rasanya malah ga kemana? lumpur enggak, bikang apalagi.... duuhh apa ya nama yg bagus untuk kue basah gni.
lha bikinnya udah mati2an sampe nyuruh2 suami nyari pengganjal berhubung cetakan n kompor g mecing

belajar memang asyik... tapi klo salahnya terlampau mahhhh harus belajar lagi yang lebih giat yaaaa

Selasa, 11 Januari 2011

Menilik sebentar Kampus

Setiap kali saya mengingat acara kamus setiap itu pula merasa darah perjuangan mengalir deras. Seperti pembela negeri yang teramat heroik. Para hero dadakan yang bertempur selama mereka dalam suatu jabatan... setelahnya, maka itu seperti tinggal kenangan. Begitulah kampus selayak miniatur bangsa. Ada sebuah pemerintahan, rakyat, dan permainan politik mini di dalamnya. Mengenang kampus tak lebih seperti sebuah sistem yang dipakai para pelajar politik menguasai medan.
Namun, setelah lama meninggalkan kampus, apakah kondis itu masih berlaku? ataukah semakin baik perkembangan politik di sana, namun perlu ralat yang lebih cantik dalam penjelasannya. Bukan keseluruhannya, namun adalah organisasi2 mahasiswalah yang seringkali menjadi tempat teduh bagi sang pembawa bendera politik ini.
Sebenarnya tak banyak sesalah bagi mereka untuk mengajar politik di kampus. Itu bagus bahkan sangat mendewasa, namun jika hal ini terlampau ofer dosis, maka pelajaran itu bukan menghasilkan ilmu, namun justru membawa mahasiswa pada skeptisme alur pikir.
Jika sudah demikian maka kampus bukan menjadi arena belajar, namun justru menjadi pemasok anggota partai politik atau bisa dikatakan sebagai mesin produksi bagi sebuah parpol. Namun, hal ini justru banyak dikaitkan dengan sebuah moment pembelajaran. dengan alasan inilah maka politik menjadi kiblat sebagian mahasiswa yang terlampau demam politik. Jelas hal ini tidak sehat.
Oleh karena itu, demi menciptakan arena belajar, bukan arena produksi, maka politik sebaiknya dimainkan dalam porsi yang wajar di kampus. Agar pembelajaran itu menjadi mental yang baik bagi para manusia yang anntinya akan menjadi penerus bangsa.